sleep

Bebarapa saat ini terasa susah sekali menuangkan isi pikiran. Terlalu banyak kesibukan yang kadang hanya alasan untuk berkelit. Apalagi tulisan tangan saya jelek. Dibaca sendiri pun sulit, apalagi kalau dibaca orang lain.

Lebih mudah mengetik. Tidak perlu pusing memikirkan apakah tulisan bisa dibaca atau tidak, kecuali kalau memilih font (jenis karakter) yang aneh.

Perasaan malas menulis ini sepertinya mencapai tahap stadium akhir. Perasaan jenuh, capek, ngantuk. Seperti curhatan anak cengeng yang mudah menyerah dengan keadaan.

Selain kurang bacaan – sudah lama tidak berkunjung ke toko buku – banyaknya masalah yang datang silih berganti menyebabkan tangan ini susah sekali menekan tuts yang tertata rapi di keyboard.

Blog ini banyak sekali tulisan serupa seperti ini. Entah kenapa, kalau lagi malas menulis sesuatu, aku lebih suka menuangkan perasaan dengan mengetik tidak jelas. Terasa lebih plong dan tanpa beban. Tidak peduli apa jadinya postingan ini.

Jadi saya minta maaf kalau anda kecewa setelah membaca postingan tidak penting seperti ini.

Buat saya, tulisan seperti ini bisa mengurangi rasa jenuh saat melihat blog saya yang jarang update. Tambah lagi dvd drive saya tidak mau membaca, mungkin kurang tenaga atau malah sudah ingin pensiun.

Sudah cukup ngantuk, sepertinya tulisan ini harus segera di akhiri, tidur. Menulis sebelum tidur memang cukup menyenangkan.

Sumber gambar: http://psychiatrist-blog.blogspot.com/2007_11_01_archive.html

Iseng kala listrik padam Sudah sejam yang lalu rumah dan sekitarnya diguyur hujan deras dan tak mau ketinggalan, sang petir terjun menuju bumi. Listrik padam sesuai prosedur kala hujan deras. Nyala sebatang lilin yang rela mengorbankan dirinya untuk menerangi kamarku. Itupun tinggal seperempat. Entah dimana kutaruh saudaranya. Lupa.

Barusan suara petir menyambar cukup keras, menghentikan detak jantung untuk sejenak. Suara hujan yang konstan menandakan belum habis cadangan air di langit. Atap rumah tak mau ketinggalan mengalirkan air lewat celah-celah genting tua tak tertata rapi. Untunglah sudah aku siapkan ember-ember di tempat favorit air hujan mendarat.

Begini rasanya kalau nggak ada listrik, komputer tak nyala, radio tidur, lampu padam. Remang-remang. Paling tidak handphone masih bisa akses plurk dan twitter meski super lelet gara-gara hujan. Untunglah para nyamuk tidak berkeliaran, mungkin mereka berteduh dirumah atau tidak punya payung. :p

Kadang saya merasa heran, cuma sepotong ambèn aja bisa menimbulkan masalah pelik yang cukup membuat pening kepala. Saya katakan sepotong karena sebenarnya “ambèn” itu sendiri tidak hanya satu. Dan tidak sebanding dengan kertas-kertas berharga yang dimilikinya. Hal seperti itu menjadi masalah yang cukup pelik dan menyakiti banyak pihak.

Bukan masalah memperkarakan ambèn, toh, itu bukan urusanku juga. Tapi, kenapa berawal dari ambèn bisa sampe membahas hal-hal yang sebenarnya tidak pantas dibicarakan, dan tidak relevan. Menjadikan api yang tersulut kecil, kebakaran yang cukup besar untuk mengotori hati di bulan puasa yang notabene disucikan dari bulan-bulan lainnya.

Lalu kemana perginya petunjuk yang selama ini dibanggakan dan diagung-agungkan, kalau dengan suatu selentingan yang belum jelas kebenarannya menjadi perkara yang sangat besar.

Saya sendiri juga sebenarnya bersikap egois karena membahas masalah yang mengenai diri saya sendiri, sedang kalau masalah yang serupa menimpa orang lain saya akan cuék. Masa bodoh. Terserah saya dianggap seperti apapun, saya bukan anda dan anda bukan saya. Entah dimana rasa perikemanusiaan saya, saat saya menghakimi orang lain hanya dengan sekali lihat.

Saya sering lebih melihat semua hal dari sisi aliran air kemana akan mengalir, dan kemana saya bisa mengubah arah perahu saya supaya tidak terseret aliran itu. Jangan salah, bukan berarti saya tidak punya pendirian, dan ini bukan pembenaran.

Kalau dilihat dengan cara apapun saya tidak bisa menghentikan atau mengatur bagaimana seseorang itu mendapat petunjuk. Sedang hanya Allah yang bisa memberi petunjuk. Kalau pun saya cuma menyampaikan, itu bukan berarti anda harus menuruti semua perkataan saya. Tanyalah pada diri anda sendiri yang bersih dan tanpa praduga. Dimana salah seseorang sehingga kita patut mendakwa dia bersalah.

Kalau pun dia tidak mendapat petunjuk, bukan berarti dia tidak bersalah, dan bukan berarti dia bersih dari dosa. Itulah proses ujian yang harus dilalui dalam hidup seseorang. Bukan salah siapa pun kalau misalnya saya tidak lulus ujian, itu murni salah saya sendiri yang memang tidak mau memikirkan petunjuk yang sudah diberikan kepada saya. Bukan salah orang tua saya, bukan salah famili saya, saudara, teman, lingkungan.

Jadi salah siapa kalau misalnya saya lebih memilih ambèn daripada hubungan silaturahim antar manusia???

(catatan: ambèn = bangku rendah panjang biasa dipakai tempat duduk)

Sebuah Kutipan dari buku yang pernah saya baca.

Ketika ditanyakan kepada Ardabili mengapa ia tak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya, ia menjawab: “Engkau tidak akan dapat menghargai sikapku ini. Jika kuucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku, mereka akan merasa senang, dan kesenangan ini sama artinya dengan bayaran atau imbalan atas jerih payah mereka. Jika tidak kuucapkan terima kasih, maka masih ada kemungkinan bahwa di masa yang akan datang mereka akan mendapat ganjaran dari amal mereka itu - dan ganjaran ini mungkin jauh lebih baik untuk diri mereka. Misalnya, mungkin ganjaran itu mereka terima ketika mereka sungguh-sungguh membutuhkannya”.

Dikutip dari “Hikmah dari Timur” pengarang Idries Shah, Penerbit Pustaka 1982.

Blog adalah ruang pribadi yang saya ciptakan dengan batasan seenak saya. Saya bebas melakukan apapun, saya isi blog dengan berbagai macam hal, mulai dari hal kecil sampai hal besar, membuat masalah atau menyelesaikan masalah, berpendapat atau mengkritik suatu hal.

Semuanya bisa saya lakukan dan menjadi tanggung jawab saya sebagai pemilik blog. Gugatan dan kecaman yang tertuju kepada saya adalah hal lumrah. Mulai dari sekedar komentar pedas sampai tuntutan hukum bisa menimpa saya. Mengerikan?

Tidak, saya tidak perlu merasa ngeri atau takut. Toh, internet dunia bebas tanpa batas. Saya bisa saja menerima hal baik atau hal buruk tergantung isi (konten) blog yang saya miliki. Konten merupakan hal utama kenapa blog itu dibaca, dikomentari, dan dikenal. Konten yang dimiliki sebuah blog menentukan siapakah pembaca setia yang akan membaca blog itu. Tidak menutup kemungkinan kalau seorang saya menerima hal buruk dari tulisan saya yang bermaksud baik – karena cuma bermaksud baik, belum tentu baik. :D

Blog seperti diary seorang blogger yang bebas dibaca siapapun atau seijin blogger. Siapa coba yang bakal peduli dengan apa yang ditulis seorang blogger di blognya sendiri. Kecuali hal itu menyinggung orang lain.

Beberapa waktu belakangan ini saya agak takut menulis di blog karena saya merasa bakal kena respon yang tidak diharapkan dari pembaca blog ini. Saya terlalu memikirkan tampilan tetapi malah melupakan konten apa yang saya isi. Setelah saya pikir beberapa waktu, ternyata itu cuma pikiran di otak saya saja yang membatasinya.

Saya terlalu pengecut mengungkapkan pendapat dan pemikiran saya. Malu. Takut. Semua pikiran negatif yang membuat seseorang tidak pernah maju.

Setelah semedi beberapa waktu, saya mulai berani melangkah lagi dan berani bertanggung jawab terhadap tulisan-tulisan saya di blog ini.

Saya berharap akan ada update berkala dan berkualitas di blog ini.

Tampilan memang penting, tapi lebih penting lagi apa yang saya tulis benar-benar dari saya, orisinil, dan dari hati (sok puitis). he…he…he…

Bayangkan saja, untuk menulis tulisan ini, saya butuh waktu berhari-hari gara-gara saya takut tulisan saya kurang bagus. Baru sadar kalau saya terlalu memikirkan hal-hal tidak penting yang membatasi kreatifitas saya sendiri.

Pembatasan pikiran yang menjadikan otak saya mampet, malas dan takut.

Sekian dulu tulisan ini saya akhiri sebagai awal dari tulisan-tulisan saya yang akan datang.

hasssan