Sore, cerah, terasa damai sekali. Sudah lama sekali tidak menikmati. Hampir dua tahun disibukkan pekerjaan menyita waktu dan terpaksa menghabiskan waktu di dalam gedung tanpa menyadari pergantian antara siang dan malam itu.

Saat duduk di depan rumah, seperti menemukan sesuatu yang hilang. Perasaan damai saat menyaksikan pergantian siang dan malam membangkitkan memori masa kecil. Memori saat masih ber umur satuan belum belasan bahkan puluhan. Masa kecil saat belum tahu dosa, bukan tidak berdosa. Saat tidak ada beban karena tidak pernah memikirkan masa depan. Hanya menjalani kehidupan mulai membuka kelopak mata sampai terpejam kembali di sepertiga awal malam.

Bedanya dengan sekarang lalu lalang kendaraan lebih ramai daripada dulu. Pohon jambu air yang dulu berdiri tegak sudah hilang tak berbekas. Tinggal pohon belimbing di sebelah barat dan beberapa pohon yang menjulang seperti tombak disebelah timur. Rumah ini pun sudah ditinggalkan penghuni yang lain. Membuat rumah-rumah lain. Rumah ini diam sepi, tak bersuara riang lagi.

Suasana sore ini menghanyutkan. Membius takut dan khawatir. Tinggal damai menyelimuti. Seperti sore yang berumur pendek, kedamaian pun terusik suara handphone. Alat yang sebenarnya menjajah privasi. Mau tak mau, harus angkat kaki dari kedamaian ini. Semoga esok bertemu sore lagi.

“Cruise On You” judul buku kedua Margareta Astaman, tentang mimpi seorang marella sejak kecil ingin naik kapal pesiar. Impian yang sering dilupakan oleh setiap orang yang beranjak dewasa, bahwa ada anak-anak dalam setiap diri kita yang kita bunuh minimal ditidurkan, anak-anak yang mempunyai mimpi sehingga hidup itu lebih bersemangat daripada sekadar realita yang lebih berjalan stagnan – mapan. Anak kecil yang selalu bersemangat bermimpi setinggi langit, percaya keberuntungan bukan sekadar perjudian yang kemungkinannya 1:100 tapi adalah nyata bila kita berusaha mewujudkannya.

Cruise On You - Margareta Astaman

Adalah Marella seorang gadis dewasa yang bekerja sebagai creative illustrator dengan gaji dua juta perbulan plus kegemaran belanja sepatu menjauhkannya menabung untuk meraih mimpinya berlayar dengan kapal pesiar. Tapi, bermula dari iseng mendaftar lomba foto romantis berhadiah berlayar ke Alaska, Marella bisa mewujudkan impiannya berlayar dengan kapal pesiar.

Entah sial atau memang nasib, ticket berlayar itu hanya bisa diambil oleh pasangan yang ada di foto. Dan tambah sial lagi, foto itu merupakan foto berdua dengan mantan pacarnya. Mantan pacar yang tidak pernah ingin ditemui lagi disisa hidup Marella. Adegan-adegan kocak dan konyol mengaliri buku ini, membuat aliran cerita menjadi sangat enak dibaca. Mulai dari kisah Marella mencari mantan pacarnya dengan menelpon separuh jakarta sampai keleleran dipinggir jalan, bahkan saat kepalanya blank, dia REG salah satu paranormal terkenal, meminta wangsit keberadaan mantan pacarnya.

Margie, sapaan akrab Margareta Astaman, menggambarkan seting secara detail. Saat membacanya serasa saya dibawa ke Alaska menikmati suasana keindahan gletser, tambang emas kuno juga hutan tundra. Drama-drama kocak antara sepasang mantan kekasih saat berlayar, hingga konflik emosi yang akhirnya mendamaikan perseteruan seumur hidup mantan pasangan itu.

Yang perlu ditarik pesan dari buku kedua Margie ini adalah impian tidak boleh dibunuh, semustahil apapun impian, nyatanya nggak ada yang mustahil. Semangat mewujudkan impian. Dan jalan mencapai impian harus dengan jalan yang jujur, bukan sebuah kepalsuan atau kebohongan, pada akhirnya biji yang buruk buahnya juga buruk. Dan biji yang baik tidak akan berhenti berbuah kebaikan.

Dan akhirnya saya tak harus berlayar dua minggu untuk menikmati Alaska, malahan bisa tertawa membaca dan mendapat pelajaran berharga dengan Cruise On You.

Saya susah tidur, mungkin Kalau ditanya kenapa saya susah tidur, saya susah jawab. Saya jarang sekali memikirkan sebab saya susah tidur. Saya hanya merasa sang kantuk sedang menjelajah ke rumah lain. Mungkin pikiran saya kurang tenang? Tapi apa yang saya pikirkan? Apakah masalah pekerjaan? Terus terang pekerjaan saya sekarang blogger – kalau blogger sudah dianggap pekerjaan di negara ini. Apakah masalah uang? Saya hanya ingat sebagain hutang saya. Apakah masalah cinta? Bagi saya itu bukan beban. Apakah masalah kuliah? Saya sudah lama keluar dari sana.

Lalu penyebab saya susah tidur apa? Ini mungkin salah saya dari awal, sering menghiraukan hukum alam, sering begadang, tidur siang. Pada tahapan tertentu saya bahkan tidak tidur dalam jangka waktu lebih dari 24 jam. Menjadikan hal itu biasa, mungkin. Karena tak tahu pasti hanya bisa berkata mungkin.

Mungkin, satu kata ini bisa memanjangkan proses berpikir saya. Segala kemungkinan. Otak yang tidak banyak digunakan berpikir, tiba-tiba berpikir keras mencari ujung pangkal kata mungkin. Saya terlalu menikmati berpikir segala kemungkinan yang sebenarnya hanya angan liar tak terkendali. Otak jadi panas. Kantuk pun malas mendekat.

Jadi kalau saya ingin tidur seharusnya saya hanya berpikir tidur. Bukan berpikir tentang tadi dan bukan berpikir tentang nanti. Dan bukan berpikir tentang kemaring ataupun hari esok. Ini akan tidur bukan koreksi diri.

Koreksi diri, satu kata yang bisa memperpanjang tulisan ngelantur ini. Dan kalau saya teruskan, judul tulisan ini akan menjadi “Mungkin koreksi diri penyebab susah tidur”.

Sumber gambar: http://psychiatrist-blog.blogspot.com/2007_11_01_archive.html

Keajaiban di Pasar Senen

Semalam, saya dapat pinjaman buku kumpulan cerpen karya Misbach Yusa Biran berjudul “Keajaiban di Pasar Senen” dari blogger Pak Blontankpoer. Keajaiban di Pasar Senen berisi 17 cerita yang menggambarkan kehidupan seniman Pasar Senen di tahun 1950-an dengan bumbu humor cerdas.

Awalnya saya mau menulis kesan setelah membaca buku ini di twitter atau di plurk, bukan di facebook karena saya sudah bosan dengan facebook. Tapi urung. Sebab kesan yang saya tulis dalam 140 karakter tidak akan bisa mewakili kepuasan saya membaca buku ini.

Bagi saya yang tidak hidup di tahun 1950-an, dan belum pernah berkunjung ke Jakarta, apalagi Jakarta sekarang sudah sangat beda dengan keadaan yang telah berlalu setengah abad yang lalu, hanya bisa mereka-reka bagaimana keadaan Pasar Senen tahun itu dengan apa yang dituliskan Biran, panggilan akrab pengarang dalam buku ini.

Kelucuan sejak awal cerita yang sebenarnya mengungkapkan kepasrahan seorang seniman yang memang belum menghasilkan suatu karya apapun dari suatu keajaiban yang pernah dialaminya, kemudian seorang manusia yang hanya minum kopi tanpa makan nasi, benar-benar membuat saya ketawa semalaman.

Tidak berhenti di situ, Misbach Yusa Biran menghadirkan suasana tahun 1950-an, lewat dialog campuran Belanda-Indonesia yang sering dipakai anak muda kaya waktu itu. Anak-anak muda kaya yang merasa sombong dengan statusnya meski masih kalah ngomong dibanding seniman yang tidak sekolah. Seperti gambaran otak kosong kebanyakan anak muda jaman sekarang.

Dan lagi cerita cinta seniman yang lebih banyak menemui kebuntuan meski ada juga yang berhasil mendapatkan cintanya. Cerita tukang cukur yang merasa menjadi seniman setelah bergaul sedikit dengan seniman bahkan membuat saya semakin terpingkal-pingkal. Semakin banyak saja yang menarik dari Pasar Senen, tempat berkumpul seniman dan yang akan jadi seniman pada masa itu.

Keajaiban di Pasar Senen menyajikan humor yang cerdas, tidak membosankan, dan beberapa cerita memang cukup menyentuh. Kesan saya, banyak hal yang menarik dari kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi pelajaran meski hal itu kadang remeh dan jarang terpikirkan. Otak kosong saya yang selama beberapa waktu ini malas menulis di blog ini menjadi semangat lagi menulis. Banyak hal yang bisa diceritakan. Mungkin berawal dari percakapan kecil, menjadi hal yang menarik ketika dituangkan dalam sebuah cerita.

Updated 06/04/2010:

Profil Misbach Yusa Biran di wikipedia

bengawan semakin mengalir sampai jauh

365 hari yang lalu, di wedangan yang khas dengan kalkulator tanpa signal berkumpul bloggers solo kopdar yang kedua kalinya – kalo nggak salah. Tenguk-tenguk crita yang penuh keakraban dengan alunan musik akustik sederhana, dibentuklah Komunitas Bengawan yang semula bernama Blogos. Teringat samar-samar malam itu aku datang terlambat. Dan sampai disana pun nggak kenal siapa-siapa secara nyata. Soalnya hanya tahu dari tulisannya dan percakapan di milis.

Malam itu bertambah teman-teman dalam hidupku dari sebuah komunitas yang sangat cair bernama Bengawan. Komunitas blogger surakarta dan sekitarnya yang sedari dulu jadi perhatian kini semakin mengalir sampai jauh.

Meski aliran kadang terhenti sejenak, berkat kekompakan dan rasa saling memiliki Bengawan yang tumbuh atas keterikatan batin menjadikan aliran Bengawan ajeg. Belum ada lagi gelombang besar yang ditimbulkan oleh aliran Bengawan seperti saat launcing februari lalu.

Aku berharap, cairnya komunitas ini tidak menjadikan komunitas ini berhenti mengalir. Masih banyak sungai-sungai kecil yang mengharapkan Bengawan turut andil mengalirinya dengan semangat dan solidaritas.

Kemanakah Bengawan akan mengalir semakin jauh?