Move On

Move on, istilah yang tepat menggambarkan perpindahan alamat blog saya. Sekian lama saya nge-blog di hasssan.web.id, akhirnya saya memutuskan saatnya untuk move on.

Alamat hassan.web.id sudah saya miliki cukup lama. Jika kamu tidak tahu apa bedanya, hitung saja jumlah “s” di masing-masing alamat itu. Kenapa saya mengurangi jumlah “s” dalam alamat blog saya? Karena akhir-akhir ini saya kedinginan.

Proses perpindahan alamat ini tidak semulus kulit yang terawat, namun cukup singkat. Mulai pemasangan Wordpress di alamat baru, memindahkan artikel dari alamat lama ke alamat baru, meneruskan alamat lama ke alamat baru, dan lain-lain, dsb. Kendala terjadi saat memindahkan lampiran gambar dari alamat lama ke alamat baru. Contohnya kutu yang menempel di artikel Berkunjung ke Pura Mangkunegaran, yang menyebabkan gambar saya tidak muncul di artikel tersebut.

Jika kamu menjumpai artikel Hello Word yang merupakan artikel bawaan saat pemasangan WordPress, sengaja tidak dihapus. Saya gunakan artikel tersebut sebagai memento perpindahan blog ini.

Saya juga sengaja memakai tampilan bawaan dari WordPress bernama Twenty Thirteen karena saya masih belum sempat membuat tampilan khusus untuk blog ini – Juga untuk halaman depan hassan.web.id. Daripada saya tak kunjung menulis karena masih mencari ide untuk tampilan, lebih baik saya memakai tampilan bawaan WordPress.

Seiring berjalannya waktu nanti, saya merencanakan untuk merombak tampilan blog ini serta tetek-bengek-nya. Konten akan lebih bervariasi menggunakan post type mirip Tumblr, seperti aside, quote, image, video, dan link. Tulisan tentang ulasan buku atau teknologi yang saya gunakan dan bersifat subjektif akan tetap meramaikan blog ini.

Jika kamu berharap untuk membaca tulisan tentang teknologi yang bersifat tutorial atau berita, saya akan menuliskannya di Virtue Magazine, blog teknologi yang saya jadi penulis di dalamnya.

Move on mudah diucapkan (dituliskan), belum tentu mudah dijalani. Banyak perkara yang mengganjal dan sulit dilepaskan. Namun jika tidak segera dilakukan, hanya akan menunda masalah dan mengganjal di kepala. Jika sudah memulai langkah pertama selanjutnya akan “terpaksa” menjalani.

Sekian dulu tulisan move on blog saya. Jika kamu punya kritik tentang perpindahan alamat ini atau saran untuk tampilan yang menarik untuk blog ini, silakan tulis di kotak komentar. Terima kasih sudah membaca.

Terkunci di depan pintu, bukan pengalaman yang menyenangkan. Terjadi karena seseorang tidak melepas kunci di balik lubang. Kunci yang saya miliki menjadi tak berguna.

Hal serupa sering dialami ketika tak bisa terhubung internet. Terjadi karena seseorang lupa menerima permintaan pengaktifan koneksi internet saya. Pulsa dan signal bagus yang saya miliki menjadi tak berguna.

Terkunci

Salah siapa? Tak ada dan tak perlu, semua terjadi karena kealpaan. Saling menyalahkan tak memecahkan masalah malah memecahkan piring — jika perselisihan terjadi di meja makan.

Bagaimana saya menyelesaikan masalah ini? Menunggu seseorang segera menyadari bahwa ada yang terkunci di depan pintu dan membukakan pintu. Selama masa penantian, saya menulis artikel ini.

Terima kasih sudah membaca. Jika punya pengalaman serupa, mari berbagi di kotak komentar di bawah.

Tampilan Home Kindle Paperwhite dalam format list

Membaca buku adalah salah satu hobi yang sudah lama saya tekuni. Genre buku yang saya baca bervariasi dari buku teknik, novel, cerpen, dan komik manga. Waktu yang paling sering saya gunakan untuk membaca adalah saat menunggu, atau kurang kerjaan, atau menjelang tidur — terutama jika sulit tidur.

Seiring berjalannya waktu, saya sering berpindah tempat (mobile) dan selalu membawa buku. Kebiasaan ini memberatkan tas dan sering buku hanya bersemayam di dalam tas tanpa pernah di baca. Kemudian saya berkenalan dengan ebook — buku dalam format elektronik sebagai alternatif buku konvensional (media cetak). Ebook mengubah kebiasaan saya dalam membaca. Saya lebih mudah membaca di mana pun, kapan pun, dari perangkat genggam. Ringan membawa puluhan buku dalam satu perangkat, tak lagi memberatkan tas yang saya panggul setiap hari.

Alasan Membeli Kindle Paperwhite

Sekian lama saya menjadikan Galaxy Note sebagai perangkat pembaca ebook, saya kadang merasa tak nyaman dengan ketahanan battery Galaxy Note yang setiap hari harus diisi. Dan banyaknya gangguan yang timbul karena perangkat ini juga digunakan untuk berbagai keperluan dan terhubung dengan internet — isi internet adalah gangguan paling banyak saat membaca.

Saya teringat salah seorang teman saya yang merekomendasikan untuk membeli Kindle — kami sama-sama mempunyai hobi membaca. Dahulu, saya tak menggubris saran teman saya. Setelah merasakan sendiri bagaimana membaca sambil mengisi baterai — biasanya membaca di malam hari saat baterai habis — ternyata sangat tak menyenangkan. Akhirnya saya memutuskan membeli perangkat pembaca ebook (ebook reader).

Ringan dipegang satu tangan

Spesifikasi perangkat pembaca ebook yang saya butuhkan adalah ringan, baterai tahan lama, mempunyai sumber cahaya sendiri, dan simpel. Beberapa toko buku online seperti Amazon, Barnes and Noble, dan Kobo, mempunyai masing-masing perangkat buatan mereka sendiri. Selain itu Sony juga mengeluarkan ebook reader. Dari semua pilihan dan pertimbangan kebutuhan dan melihat review di youtube, saya memutuskan membeli Kindle Paperwhite.

Kindle Paperwhite adalah generasi ke lima dari seri Kindle yang dibuat Amazon. Versi ini merupakan versi yang paling sesuai dengan kebutuhan saya, ringan, battery tahan lama, mempunyai sumber cahaya sendiri, dan simpel. Juga karena ada tawaran pembelian buku dari Amazon – lewat perantara – dengan harga yang lebih miring ke dompet. Tentu saja harga perangkat Kindle Paperwhite lebih murah dibandingkan yang lain.

Proses Pembelian Kindle Paperwhite

Kindle, tidak dijual secara resmi di Indonesia. Dan saya tak mau membeli langsung dari Amazon karena terlalu lama menunggu waktu pengiriman. Saya memutuskan untuk membeli dari penyedia (pengimpor) Kindle yang banyak menawarkan barangnya di Kaskus. Saat pertama kali memutuskan membeli (dua bulan lalu), ternyata penjual yang saya pilih kehabisan stok. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menunda membeli.

Bulan lalu, penjual tersebut memberi kabar kalau sudah ada stok lagi. Saya langsung membeli saat itu juga. Selang dua hari, barang tersebut sudah sampai ke tangan saya.

Kesan Pertama Memegang Kindle Paperwhite

Saat pertama kali membongkar bungkusan Kindle Paperwhite, dan memegang perangkat ini secara langsung, saya langsung merasa nyaman. Begitu ringan, terasa kokoh saat dipegang, dan elegan. Saya tidak merasa kecewa merogoh kocek untuk menebus perangkat pembaca ebook seharga dengan tablet low end 7 inch.

Pertama kali menyalakan Kindle Paperwhite

Tampilan tulisan di layar juga terasa nyaman dibaca. Perangkat ini menggunakan layar dengan teknologi E Ink sehingga pengalaman membaca mirip seperti membaca di kertas. Kindle Paperwhite menyediakan sumber cahaya sendiri yang bisa diatur intensitasnya, sehingga masih bisa membaca di tempat sangat gelap atau di bawah terik sinar matahari.

Pemakaian lebih dari sepekan

Kindle Paperwhite sudah saya miliki lebih dari sepekan dan saya puas dengan perangkat ini. Membaca bukan lagi hal menyebalkan karena terlilit kabel yang digunakan untuk mengisi baterai, atau terganggu notifikasi dan godaan untuk mengecek media sosial.

Kindle Paperwhite in action

Pengalaman membaca seperti membaca buku konvensional. Teknologi sumber cahaya yang digunakan di Kindle Paperwhite tidak membuat mata lelah, karena cahaya dipantulkan kembali ke layar, bukan langsung ke pembaca. Tangan juga tidak lelah membaca berjam-jam, meski membaca buku yang memiliki halaman ratusan sampai ribuan. Bayangkan jika membaca buku karya Dan Brown edisi cetak, berat buku lebih menyiksa daripada kesenangannya. Perangkat ini bisa menyimpan buku hingga ribuan, bisa lebih bervariasi dalam membaca, jika bosan membaca suatu buku, bisa beralih ke buku lain.

Manajemen Ebook

Ebook reader tentunya memiliki kapasitas untuk menyimpan beberapa atau ratusan bahkan ribuan buku dalam satu perangkat. Manajemen berkas ebook menjadi sangat penting demi kelangsungan hobi membaca dan menjauhkan ebook reader dari keruwetan banyaknya berkas yang disimpan.

Tampilan home Kindle Paperwhite dalam format cover

Saya memutuskan menggunakan Calibre untuk mengelola koleksi ebook yang saya miliki. Saya mempunyai koleksi ratusan ebook yang siap dibaca atau sudah dibaca. Tak semua buku itu saya pindahkan ke Kindle Paperwhite — meski perangkat ini bisa menangani koleksi sebanyak itu. Namun, hanya akan menyusahkan saya sendiri jika menaruh ebook sebanyak itu ke dalam Kindle Paperwhite. Saya hanya menyimpan 10-20 buku saja di Kindle Paperwhite. Semuanya merupakan buku yang akan saya baca, atau referensi. Sisanya saya simpan di Calibre, sebagai backup dan untuk mengelola buku itu.

Alur proses manajemen ebook yang saya pakai adalah memasukkan berkas ebook ke Calibre. Mengolah metadata ebook sehingga ebook mempunyai konsistensi informasi mengenai dirinya sendiri, termasuk menandai ebook ini akan dibaca atau tidak. Kemudian semua ebook yang ditandai “akan dibaca” dikirim ke Kindle Paperwhite. Jika sudah selesai membaca, saya akan menandai ebook tersebut di Calibre dan menghapus dari Kindle Paperwhite. Saya jarang sekali membaca ulang suatu ebook dalam jangka waktu setahun, jadi menghapus berkas ebook dari Kindle Paperwhite setiap selesai membaca adalah pilihan yang paling baik.

Akhir kata…

Kindle Paperwhite, ebook, dan Calibre sangat membantu saya dalam menekuni hobi membaca. Perangkat-perangkat dan media tersebut sangat membantu dalam mengelola, membaca, dan menyimpan koleksi buku yang saya miliki. Selama ini saya masih belum menemukan kekurangan yang begitu kentara dari perangkat-perangkat tersebut.

kindle-paperwhite

Kekurangan justru dari karya-karya sastra bahasa Indonesia yang sampai saat ini masih sulit ditemukan media elektroniknya. Belum banyak ebook untuk karya sastra Bahasa Indonesia. Padahal saya juga termasuk penggemar karya sastra Bahasa Indonesia. Saya berharap dalam beberapa tahun ke depan, penerbit atau pengarang Indonesia juga mengeluarkan edisi elektronik dari buku yang mereka buat.

Oke, sekian artikel saya yang sepertinya cukup panjang dan membosankan. Jika ada pertanyaan atau berbagi pengalaman menggunakan Kindle dan ebook, silakan tulis di kotak komentar di bawah ini. Terima kasih sudah membaca artikel ini.

Minggu 24 Maret kemarin, saya bersama Mursid dan Hendri berkunjung ke Pura Mangkunegaran. Tujuan awalnya ingin mencoba es beras kencur di belakang parkir Pura Mangkunegaran, yang kata Hendri paling enak di Solo, namun malah tidak jualan kala hari minggu. Biaya masuk Pura Mangkunegaran hanya Rp. 10.000 per orang per masuk. Dan ini hasil jepretan asal kala siang itu.

[gallery ids=”1196,1195,1190,1191,1192,1193,1194”]

update 18 Agustus 2013 - artikel ini dalam perbaikan

Ingress-Featured-Logo

Jika kamu seorang penggemar Augmented Reality Game (ARG), besar kemungkinan kamu sudah mendengar atau malahan sudah bermain Ingress. Ingress adalah ARG berbasis Android buatan Niantic Labs salah satu divisi Google, Inc. Alkisah terjadi perseteruan antara Resistance dan Enlightened memperebutkan portal yang berwujud landmark di setiap kota di seluruh belahan dunia. Tentu saja dibumbui tema alien dan konspirasi agar permainan semakin menarik.

Bagaimana Bermain Ingress?

Ingress sampai saat ini masih dalam tahap closed beta sehingga kalau kamu ingin mencoba permainan ini harus sabar meminta kode aktifasi melalui situs Ingress, atau bisa mengirimkan artwork di Google+ Communities Ingress, jika karyamu menarik dan unik, mereka (Niantic Labs) akan memberikan kode undangan segera. Aku telah memainkan permainan ini kira-kira akhir Desember lalu, setelah menanti undangan lebih dari sebulan. Ketika mendapat undangan aku segera mengunduh applikasi game Ingress dari Google Play. Mulai permainan dengan menjalani tutorial singkat tetek bengek game ini, kemudian memilih salah satu faksi Resistance atau Enlightened. Kesan dari tutorial aku diarahkan untuk memilih Resistance namun aku lebih memilih Enlightened karena pencerahan lebih menarik daripada konservatif :D. Sebenarnya memilih faksi apapun tak masalah. Berikut sedikit kutipan dari halaman Google Play Ingress:

“The Enlightened” seek to embrace the power that this energy may bestow upon us.

“The Resistance” struggle to defend, and protect what’s left of our humanity.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=92rYjlxqypM]

Mulai Bermain Ingress

Tampilan umum Ingress

Permainan pun dimulai, sialnya, waktu itu di Solo belum banyak portal, bahkan hanya satu dan di dalam Keraton. Penantian beberapa pekan kemudian, beberapa portal baru bermunculan dan lebih mudah dijangkau. Interaksi dengan game ini adalam mengumpulkan XM (Exotic Matter) semacam energi untuk melakukan aksi, dan hacking portal, menguasai portal menaruh (deploy) resonator, serta membuat Control Field semacam tautan antara tiga portal yang berbentuk segitiga. Mulailah perburuan portal, aku dan handphone harus benar-benar mendatangi lokasi portal untuk berinteraksi dengan portal. Aku ingat portal yang pertama kali aku hack adalah Stasiun Balapan, untungnya portal yang ada di dalam pagar stasiun itu masih bisa diakses dari luar pagar, tepi jalan, sehingga aku tak perlu masuk setiap saat akan hack portal yang ada di sana. Kadang merasa agak aneh, tiba-tiba berhenti di depan pagar, keluarkan handphone, hack, kemudian pergi. Aku yakin, pengemudi taksi yang ada di sekitar Stasiun Balapan akan curiga jika aku terlalu sering melakukannya. Sebagai pelengkap permainan ini, situs resmi Niantic Project menghadirkan cerita yang terjadi di Ingress. Semacam sejarah dan juga teka-teki konspirasi. Untuk mencari ketersediaan portal dan apa saja yang terjadi termasuk chatroom, disediakan situs Intel, situs ini sangat berguna sebagai alat perencanaan aksi. Salah Satu Portal Di Solo, Tugu Kebangkitan Nasional

Kesan Bermain Ingress

Permainan ini menggunakan augmented reality map, pemain harus benar-benar bergerak keluar dari rumah, mengajak pemain untuk berinteraksi dengan dunia nyata. Setiap portal harus didatangi dengan fisik, tak sekadar duduk dibelakang meja pencet-pencet keyboard dan mouse, sehingga selain bermain, paling tidak mendapat manfaat olah raga ringan, jalan-jalan. Selain itu, ada alasan untuk mengunjungi landmark atau tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah dikunjungi.

Portal Key Radya Pustaka

Yang lebih menarik di tengah masa game lebih social, Ingress lebih menyenangkan jika dimainkan berkelompok, bukan sekadar pencet share untuk mendapatkan koin lebih atau bibit bunga, namun membangun portal perlu teamwork yang bagus. Juga komunitas yang terbentuk dari semua orang yang memainkan game ini. Jika di kota kita belum ada portal, kita bisa mengirim foto landmark di kota berikut geotag-nya ke Niantic Labs. Jika diterima oleh mereka, dalam waktu sebulan, portal tersebut akan tersedia di kota kita. Artinya, lokasi-lokasi pariwisata bisa didaftarkan sebagai portal, sekalian promosi kota masing-masing. Game ini benar-benar masih dalam tahap pengembangan, setiap saat bisa terjadi perubahaan signifikan dan masih jauh dari video teaser yang ada di atas. Juga aplikasi Ingress sangat boros memakan battery, bisa dikira-kira layar, gps, dan koneksi data, nyala dalam waktu bersamaan.

The world around you is not what it seems.

—tagline Ingress