Sombong itu bukan hanya saat mengaku sebagai orang besar, namun juga ketika terlalu sering mengaku sebagai wong cilik…

Jika ingin melihat lingkaran secara utuh, lihatlah dari luar lingkaran

Apa yang aku lakukan di hari libur? Kadang seharian tidur, kadang seharian nonton film hasil unduhan, atau kadang belajar pemrograman.

Tapi akhir-akhir ini aku menyadari apa yang menyenangkan di hari libur. Menikmati segelas kopi di teras warung kopi yang tak terlalu ramai, sambil merenungi kehidupan atau sekadar melamun.

Dalam waktu satu sampai dua jam berikutnya, pikiran lebih fresh dan tak lagi suntuk dengan pekerjaan.

Kehidupan terasa lebih berarti daripada sekadar menghabiskan waktu memandangi layar lcd (laptop atau gadget).

Satu sampai dua jam me time sangat berarti melepaskan lelah pikir.

daripada sakit hati

lebih baik sakit gigi ini

biar tak mengapa

—Cuplikan lirik “Sakit gigi” dipopulerkan oleh Meggy Z

Jika kamu pernah mendengar lirik lagu di atas, dan pernah sakit gigi. Saya rasa kamu akan sependapat dengan saya, bahwa sakit hati itu masih lebih baik dari sakit gigi.

Efeknya mungkin mirip. Sakit hati dan sakit gigi, bisa menyebabkan berkurangnya nafsu makan. Ketidak-stabilan emosi. Datang di malam hari ketika akan tidur. Dan lain sebagainya, whatever.

Namun efek paling menyebalkan dari sakit gigi adalah tak bisa dilupakan dan tidak bisa tidur. Salah satu jalan adalah dibawa ke dokter. Dan dokter gigi tidak ada yang murah. Pun tak ada dokter gigi yang saya ketahui buka jam 12 malam.

Sedangkan sakit hati, paling tidak masih bisa tidur dan bahkan bisa teralihkan (terlupakan) seiring berjalannya waktu atau banyaknya kegiatan lain. Kecuali kalau pendendam. Untungnya saya bukan tipe orang yang suka mendendam.

Kesimpulannya, mana yang lebih baik? Sakit gigi atau Sakit hati? Tidak salah satu atau keduanya. Sakit itu bukan pilihan namun resiko. Dan sakit gigi adalah resiko yang paling menyebalkan.

Saya kesulitan menemukan ide dan mood untuk menulis beberapa hari terakhir. Awal bulan ini, saya akan mulai nge-blog selama Februari, setiap hari, dengan mengoptimalkan ide yang didapat dari ebook “365 Days of Writing Prompts” yang ulasannya saya tulis di VirtueMagz.

Harapannya agar lebih mudah lagi membangun ide dan mood untuk menulis.

Tulisan saya beberapa pekan sebelumnya kebanyakan resensi dari buku yang selesai saya baca. Namun pada akhirnya malah membuat saya tertekan karena tak semua buku bisa menginspirasi saya untuk membuat tulisan di blog.

Flangiprop! Invent a definition for the word “flangiprop,” then use the word in a post The Daily Post – 365 Days of Writing Prompts, 2013, 13

Oke, dalam ebook tersebut, ide untuk hari ini adalah membuat definisi kata “flangiprop”. Dan saya merasa kata tersebut kurang menarik jika diserap dan didefinisikan dalam Bahasa Indonesia.

Awal kata tersebut menggunakan huruf “F”. Dalam bahasa Indonesia, sering terjadi salah-kaprah penggunaan kata serapan yang memakai huruf “F” dalam susunan katanya. Apakah tetap memakai huruf “F” atau diganti “P”? Apakah “faaak” atau “paaak”?

Februari atau Pebruari?

Kembali ke awal bulan, saya menemukan keganjilan waktu melihat indikator kalender di Ubuntu yang bersemayam di komputer saya. Di situ tertulis “Sab, 1 Peb 2014 07:37:02 WIB”.

Pengaturan Bahasa di Ubuntu ~ Februari atau Pebruari

Saya merasa ada yang salah pada penulisan nama bulan dalam indikator tersebut. Kenapa nama bulan kedua tahun masehi ditulis “Peb” bukan “Feb”?

Setelah berburu informasi di google mencari kebenaran antara “Februari” atau “Pebruari”. Akhirnya saya menemukan di beberapa referensi yaitu KBBI Online dan Kateglo, menyebutkan bahwa kata yang baku adalah “Februari”, bukan “Pebruari”.

Dan hal itu membuat saya dongkol, karena penyebutan nama bulan yang seharusnya merupakan hal baku yang sering digunakan dan ada selama sejak sistem penanggalan ini dipakai, terjadi kesalahan.

Kemudian saya ingin menyampaikan kekeliruan kepada Ubuntu bahwa terjemahan Bahasa Indonesia yang mereka pakai tak baku. Namun urung, karena prosesnya tak semudah menyampaikan perbaikan bahasa di Facebook, Twitter, atau layanan lainnya. Sekarang sudah dongkol kuadrat.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti tampilan indikator kalender menggunakan Bahasa Inggris, tidak menggangu mata saya dan tidak membuat dongkol.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang menggunakannya dan Selamat awal Bulan Februari.

Kredit gambar: Furiously Writing ~ Flickr