Kemarin ngobrol dengan seorang teman di waktu malam, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik otak kiri dan otak kananku untuk bekerja. Temanku tanya: “Kamu koq kebiasaan maksa?”, aku jawab singkat: ”Ngeyel, paksa aja”.

Sesampai dirumah pertanyaan dan jawaban itu masih mememenuhi benak dan pikiranku. Bukan kebiasaanku memaksa, aku masih kepikiran, kenapa harus memaksakan sesuatu agar berjalan lancar ya?

Suatu sifat manusia yang selama ini aku amati, manusia tidak akan berjalan sendiri kalau tidak dipaksa. Dorongan-dorongan positif atau negatif untuk memaksa seseorang agar melakukan suatu hal sudah lumrah. Jarang sekali adanya kesadaran untuk melakukan lebih dahulu sebelum disuruh atau dipaksa.

Kalau semua hal penting harus menunggu perintah yang lebih cenderung memaksa maka kapan kita bisa berkembang. Inisiatif dan kreatifitas cenderung mandul. Haruskah kita menunggu orang lain memerintah bahkan memaksa kita untuk melakukan sesuatu?

Itulah mengapa aku lebih suka memaksakan sesuatu agar berjalan. Paksaan lebih efektif daripada pasrah pada kesadaran orang lain yang kadang not responding atau malah tidak muncul sama sekali.

Paksa atau pasrah menjadi pilihan yang lebih cenderung mengarah pada keadaan objek bukan lagi pilihan subjek yang melakukan.

Jalan setapak yang mulai menyempit membuat berpikir dua kali untuk melangkah. Rasa dingin dunia yang mulai menusuk tulang pun semakin terasa linu. Pandangan yang dikaburkan kabut kesesatan membuat mata perih. Beban berat yang bergelantung di pundak semakin terasa berat.

Mencoba berhenti sejenak melepas lelah, genangan air ini tidak mau menyingkir, malah memanggil temannya datang berkumpul. Semakin terasa lelah. Terlelap di antara bumi dan langit.

Kehangatan mentari di pagi hari hanya bisa dirasakan sejenak, segera di usir arak-arakan awan mendung yang ingin segera melepas bebannya. Langit yang menangis sepanjang hari membuat jalan ini semakin licin dan menipu.

Sepi yang terasa makin hari makin tak terasa lagi. Seolah-olah menjadi kebiasaan yang menipu diri. Rasa yang menjadikan diri seolah memang sendiri di belantara buas yang luas. Hanya desahan angin yang setia menemani setiap langkah. Gemricik aliran air sebagai obat sepi yang mujarab.

Terlihat sorot cahaya dari ujung jalan. Mencoba mempercepat langkah mencapai setitik harapan. Tiba-tiba terhenti oleh rekahan mulut bumi tepat di depan ujung kaki. Hampir saja tertelan mentah-mentah. Lagi-lagi harus memutar jalan lagi untuk mencapai sorot kecil cahaya yang mulai membesar.

Akankah jalan ini tak kunjung berujung? Atau memang harus memilih jalan lain yang juga samar?

Tulisan ini merupakan tulisan iseng yang gak jelas, tidak mengarah kemana-nama, hanya sekedar buah pikiran sempit dan kurang kerjaan seorang hasssan.

Mulai

->

Banyak pertanyaan yang muncul dari setiap pembahasan tentang blog. Sebagian besar bertanya: “kalo punya blog bingung mau nulis apa?”, ada juga: “Nanti yang baca banyak gak ya?” dan masih banyak pertanyaan senada tentang blog. Meski aku bukan seorang yang ngerti banget tentang blog, saya sedih mendengar pertanyaan yang menganggap blog itu suatu hal yang susah dan merepotkan.

Blog sebenarnya sebuah jurnal online yang boleh di isi apa saja oleh pemiliknya. Seorang blogger tidak dibatasi berapa banyak dia harus menulis, apa saja yang boleh ditulis, bahasa yang di pake.Tidak ada aturan jelas apakah blogger harus menulis dengan tata bahasa, ejaan yang baik dan benar.Tulisan harus tertata urut pun, tidak ada turannya. Salah ato benar pun sudah dibelokkan oleh privasi seorang pemilik blog. Konsumsi pribadi yang sebelumnya menjadi milik privat setiap orang, sudah menjadi milik umum dengan ijin seorang pemilik blog.

Contoh aja tulisan iseng ini, ngak jelas akan mengarah kemana, akan berakhir kayak gimana pun aku sendiri ngak tahu. Sekedar keisengan untuk mengisi waktu luang yang biasanya dihabiskan untuk nge-plurk. he…he…he… Ini juga merupakan curahan hati yang ngak ada hubungannya dengan siapapun selain diriku sendiri.

Postingan campur aduk, gak jelas, seperti ini pun kadang membuat pembaca tambah bingung, semakin tenggelam dalam kesesatan dan kebingungan penulis. Tulisan iseng asal-asalan ini bisa diambil pelajaran sebagai panduan, bahwa tulisan seperti ini tidak dilarang dan tidak ada manfaatnya.

Yang ada di otakku sekarang adalah kalo tulisan ini memang aku tulis dengan tujuan yang baik tapi keliru mengaplikasikannya.

<-

Selesai

Untuk pembaca yang ngak pengen tersesat ato kecewa sebaiknya jangan membaca tulisan ini. beruntung untuk anda yang membaca peringatan ini. Kalau anda terlanjur membaca semua tulisan ini, silahkan mencaci-maki ketidakjelasan tulisan ini.

Kemaren dapet info dari milis kalo jum’at, Desember 2008 jam 19.00 akan diadakan ngopi bereng di wedangan Monumen Pers. Acara yang sebelumnya diadakan di Green House Sriwedari ini akhirnya pindah karena Green House akan pindah.

Awalnya gak tahu mo berangkat ato gak. Soalnya dari sore hujan deres banget pe jam 7 malem. Dan dapet tugas mendadak anterin laptop. Selesai kerjain tugas langsung meluncur ke Monumen Pers. Tapi malah bingung pas sampe sana. Gak tahu lokasinya. Maklum anak solo tapi jarang keluar. Karena sedikit putus asa, aku pulang aja. Belum sampe rumah dapet sms dari mas Kurnia lokasinya. Langsung meluncur tanpa banyak pikir lagi. Untung belum sampe rumah.

Sampe lokasi, pertama agak canggung juga. Sebab gak kenal siapapun. Modal pede aja langsung duduk ikut gitu aja… (dateng telat jadi bingung gak sempet kenalan)

Lama-lama terbiasa juga. Suasananya lumayan enak.

Diputuskan kalo blogos akan punya domain sendiri bengawan.org. Launching-nya masih belum ditentukan. Nunggu kabar dari temen-temen blogos.