Lakang dan Serep

Reading time ~1 minute

Serep, ban cadangan sebuah mobil sedan tahun sembilan puluhan, diangkat dari bagasi. Lakang, si ban belakang sebelah kanan, tertusuk paku dan kempes. Serep menggantikan peran Lakang, karena dia satu-satunya ban cadangan yang ada di mobil itu.

“Hai, Rep, kamu menggantikan aku ya?” sapa Lakang sambil tersenyum.

“Iya Kang,” jawab Serep pendek.

“Kenapa mukamu kusut? Bukannya asyik menggelinding di jalan,” ujar Lakang sambil menatap Serep.

“Kamu nggak pernah tahu perasaanku, Kang. Sejak dibeli pertama kali, aku tak pernah menyentuh jalanan sekalipun,” tukas Serep, kesal.

“oh… jadi ini pengalamanmu yang pertama kali, ya Rep. Yang pertama selalu tak terlupakan,” ujar Lakang, sambil mengenang malam pertamanya.

“Sebagai ban, aku merasa terhina. Kehidupan ini tak adil. Aku hanya bisa melihat yang lain menggelinding dengan riang di jalan,” kenang Serep, kemudian melirik bagasi, “Sementara aku berbaring di bagasi yang sumpek bersama koper yang sombong.”

“Disyukuri saja, Rep. Paling tidak kamu akan merasakan dinginnya air hujan dan sakitnya kejeglong.”

“Tapi tetap sakit, Kang. Sakiiit…” ratap Serep.

“Sudah… Sudah… Yang penting kamu bisa menggelinding sekarang,” ujar Lakang sambil puk-puk Serep.

“Dan setelah kamu ditambal, aku akan kembali jadi ban cadangan. Kembali ke kotak sempit bersama koper tak berperasaan,” gumam Serep sambil berlalu.

Kindle Paperwhite: Pengalaman Membaca Yang Menyenangkan

Membaca buku adalah salah satu hobi yang sudah lama saya tekuni. Genre buku yang saya baca bervariasi dari buku teknik, novel, cerpen, da...… Continue reading

Hujan dan Kebocoran

Published on November 08, 2015

Bermain Ingress

Published on March 10, 2013