Percakapan default di mini market

Reading time ~2 minutes

Mini Market

Tiga tahun lebih, saya mulai hidup di kota Solo. Mulai mengenali kembali kota di mana saya dilahirkan dan saya tinggalkan waktu kecil. Banyak yang berubah sejak belasan tahun silam. Meski sebenarnya, tak banyak detil yang saya ingat. Mungkin saat ini yang paling kentara adalah, begitu menjamurnya mini market model franchise di setiap pemukiman strategis.

Ketika kelaparan jam 3 malam, saya akan keluar dan menuju mini market terdekat yang buka 24 jam. Terserah dengan segala sesuatu berbau kapitalis atau neolib. Yang penting perut saya tidak kosong, dan tidur nyenyak. Saya pun lebih mirip oportunis daripada idealis.

Saking seringnya saya mengunjungi mini market terutama setelah jam 12 malam – karena sebelum tengah malam, saya akan lebih memilih warung klontong tetangga yang masih buka – adalah sapaan saat di depan pintu, kira-kira akan terjadi percakapan default seperti ini:

“Selamat malam”, sapa pelayan dengan senyum dan penuh dedikasi meski mata sayu karena ngantuk.

“Malam”, jawab saya datar, perut lapar, buat senyum saja malas, atau kadang saya cuma mengangguk.

Saya akan melenggang masuk, mencari yang saya butuhkan. Mungkin setelah mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya akan tetap berhenti sejenak, melihat barang dagangan sekitar, yang mungkin akan saya butuhkan.

Selesai berpikir, dan ternyata saya tidak termakan strategi marketing dengan menumpuk barang di sekitar agar saya tertarik membeli, saya akan menuju kasir. Percakapan default kembali terjadi:

“Sudah cukup ini pak”, kata penjaga kasir.

“Yap”, masih datar saya menjawab, kenapa saya dipanggil “Pak” karena muka saya terlalu tua atau memang kalimat pertanyaan default, entahlah.

“Sekalian, beli pulsa?”, sambung penjaga kasir.

“Nggak”, teman di #RBI ada yang jual pulsa, dan bisa ngutang, kenapa mesti beli cash? :D.

Penjaga kasir akan menghitung total pembelian, saya pun akan diam seribu bahasa, tak bertanya lebih jauh atau sok akrab untuk tahu lebih banyak tentang kehidupannya, karena saya sudah terlalu banyak tahu tentang kehidupan orang lain, dan tidak berencana menambah dalam waktu dekat.

“Semuanya, sekian ribu”, kata penjaga kasir – saya tidak akan menulis total pembelian saya, karena anda pun tak ingin tahu hal itu bukan, :D.

“Terima Kasih, Selamat Malam”, sambung penjaga kasir setelah memyerahkan kembalian – kalau ada – dan menyerahkan barang belanjaan saya.

“Malam”, jawab saya pendek.

Percakapan ini benar-benar default yang sering saya lakukan ketika membeli suatu barang di mini market. Meski mini market berbeda merk dagang, kalimat sambutan terasa sekali tak jauh beda. Entah karena kurang kreatif, atau hanya sekadar standarisasi pelayanan. Whatever.

Mungkin akan lebih baik jika suatu saat saya membawa papan yang ditulisi beberapa jawaban default saya ini. Sehingga saya bisa menghemat nafas meski sedikit :p.

Kindle Paperwhite: Pengalaman Membaca Yang Menyenangkan

![Tampilan Home Kindle Paperwhite dalam format list](/images/old/2013/08/Kindle-Paperwhite-01.jpg)Membaca buku adalah salah satu hobi yan...… Continue reading

Hujan dan Kebocoran

Published on November 08, 2015

Blog dan Saya

Published on March 28, 2009