Kesederhanaan

Reading time ~2 minutes

Terakhir kali blog ini saya rombak waktu saya butuh move on dari kebanyakan “s”. Dan kali ini saya sederhanakan lagi dari sisi mesin yang membuatnya.

Dahulu, berawal dari Blogger kemudian saya beralih ke WordPress karena perkerjaan saya waktu itu berhubungan erat dengan penggunaan WordPress. Sekarang, pekerjaan saya jauh dari CMS, dan sudah jarang sekali saya mengutak-atik WordPress. Saya butuh sistem yang lebih sederhana. Dan tak perlu sistem sekompleks WordPress hanya untuk membuat artikel.

Lalu, apakah WordPress jelek?

Sebenarnya WordPress itu cukup sederhana, terutama untuk pengguna yang butuh ekosistem pengelola konten yang mumpuni berbasis PHP.

Banyak fitur WordPress yang bisa langsung dipakai tanpa perlu belajar banyak hal. Cukup dengan klik dan ketik sana-sini, blog sudah berjalan dengan tampilan menarik, ditambah dukungan SEO, statistik dan berbagai macam puluhan ribu fitur tambahan dari plugin. Juga bisa dikelola dari perangkat mobile.

Jadi, untuk kalian yang ingin langsung bisa nge-blog tanpa ribet, WordPress salah satu pilihan menarik yang bisa dipasang di server berbasis PHP di banyak shared hosting di dunia.

Kenapa pindah ke Jekyll?

Saya tertarik dengan sistem pembuat situs web statis, karena pada akhirnya yang disajikan kepada pembaca adalah halaman HTML. Juga teman saya sudah membuktikan sederhananya memakai sistem ini di blog-nya.

Meski saya sudah mengenal Jekyll sejak lama, namun saya ingin menguatkan argumen saya dengan mencoba beberapa alternatif seperti Middleman (Ruby), Hexo (JavaScript), dan Metalsmith (JavaScript).

Setelah mencoba, akhirnya saya putuskan tetap memakai Jekyll, dan ditambah Octopress. Bagi saya, Jekyll lebih mature dan stabil dari sisi pengembangan. Selain itu lebih banyak pilihan theme—jujur saja, saya bukan desainer website.

Bukankah Jekyll itu pakai terminal?

Jika tidak terbiasa dengan Markdown dan terminal, memang Jekyll itu terasa sangat mengintimidasi. Bayangkan, prosesnya dijalankan dengan terminal yang bahkan tak ada penujuk arah jurusan, Jogja-Solo atau Jogja-Semarang—bukan terminal bus kaliii…

Bagi yang sering klik sana-sini, dan langsung jadi, mengetik perintah di terminal itu seperti menulis mantra kemudian terjadilah keajaiban—beruntunglah saya yang sering menggunakan terminal.

Menjalankan Jekyll di terminal
Menjalankan Jekyll di terminal

Sebenarnya tak ada keajaiban saat menggunakan Jekyll, dan bisa dilakukan siapa pun. Hanya perlu menghafal beberapa perintah, dan sedikit penempatan konten. Dan kalau tak mau menghafal, dokumentasinya cukup mudah ditemukan dan membantu.

Pilihan Hosting murah, bahkan gratis

Hasil kompilasi Jekyll adalah berkas HTML, CSS, dan berkas lainnya yang bersifat statis dan bisa disajikan tanpa perlu bantuan perangkat lunak selain peramban web.

Dengan komposisi berkas HTML, CSS, dan gambar, saya bisa menaruh blog saya di GitHub yang menyediakan hosting gratis untuk halaman statis. Lebih ekstrim, bisa saja saya sajikan blog saya dari Dropbox atau Google Drive.

Menyederhanakan

Beberapa konten sengaja tidak saya ikutkan di perubahan sistem ini. Terutama yang tak bermanfaat dan kurang sentimentil. Keputusan ini tak terlalu berat, bahkan sengaja untuk mengurangi kemaluan yang ditimbulkan dari artikel yang saya tulis di masa lalu—dengan kedok menyederhanakan.

Kesimpulannya, bagi saya sekarang, kesederhanaan mesin blog adalah penyajian konten yang cepat, mudah diakses, mudah dikelola dan ringan di kantong. Jangan sampai, blog membebani pikiran selain membuat isinya sendiri.

Kindle Paperwhite: Pengalaman Membaca Yang Menyenangkan

Membaca buku adalah salah satu hobi yang sudah lama saya tekuni. Genre buku yang saya baca bervariasi dari buku teknik, novel, cerpen, da...… Continue reading

Blog dan Saya

Published on March 28, 2009

Hujan dan Kebocoran

Published on November 08, 2015