Hujan dan Kebocoran

Reading time ~2 minutes

Hari ini hujan deras pertama di Jogja. Kamar kosku bocor lagi, meski tahun kemarin sudah diperbaiki. Dan Bocornya lebih parah dari tahun kemarin.

Sialnya saya lupa menaruh ember di bawah tetesan air, dan banyak barang yang masih berserakan di lantai. Bocoran yang seperti grojogan sèwu itu sukses membasahi beberapa barang-barang tersebut.


Siang ini saya terbangun karena mendengar suara air yang begitu dekat di telinga. Saat itu air sudah menggenang hampir di sebagian besar lantai kos.

Saya panik ketika melihat laptop di atas meja juga basah. Jengkel sekali saya—untung cuma bagian atas, tak sampai ke dalam dan masih bisa untuk menulis tulisan ini.

“Kenapa bocor lagi,” batin saya jengkel dalam hati.

Kemarin saya sudah persiapan ketika mungkin bocor lagi. Yang tidak saya sadari waktu berangkat tidur tadi adalah, hari ini akan hujan deras sekali dan menyebabkan kebocoran yang malah lebih parah dari dugaan saya sebelumnya.

Kejengkelan memuncak, ketika airnya lumayan deras dari atap, saya memutuskan akan pindah kos saja. Sepertinya pemilik tak terlalu memperhatikan keadaan kos.

Apa gunanya kos yang cukup murah namun malah merugikan saya lebih banyak.

Menyadari tak ada gunanya jengkel berkelanjutan, saya segera membersihkan genangan air dengan kain pel, sedikit demi sedikit genangan mulai berkurang. Lalu hujan tambah deras. Dan “air terjun” dari atap juga senada dengan hujan.

Saya mulai berlomba dengan hujan—saya pikir jika saya lebih cepat saya bisa meminimalisir kebasahan—dan tentunya pemenangnya adalah hujan. Goblok sekali saya berlomba dengan hujan yang bahkan bisa membanjiri Jakarta.

Kejengkelan saya sudah klimaks, “FAK!!!,” batin saya. Lalu mulai menertawakan kegoblokan saya sendiri. Saya akhiri lomba dengan hujan sebagai pecundang.

Daripada meratapi kekalahan, saya googling kos yang mungkin lebih baik dari sekarang. Paling tidak, bocor bukan salah satu fiturnya. Saya memutuskan akan pindah besok. Titik.

Lalu hujan mulai reda. Grojogan sèwu sudah tak terlalu deras lagi. Saya mulai membersihkan kamar lagi. Kali ini saya berharap tak seperti sebelumnya. Berlomba dengan hujan. Setelah selesai, akhirnya lantai kamar sudah tak digenangi air lagi. Dan saya masih cukup jengkel sambil menertawakan nasib saya sendiri.

Sayup-sayup terdengar, “dooong… dooong… dooong,” lalu saya mengintip dari jendela. Penjual es puter beratap payung menjajakan jualannya di tengah gerimis. Saya seperti ditampar. Penjual es saja masih optimis menjajakan jualannya di tengah gerimis. Masak saya menyerah begitu saja ketika atap genteng kamar saya bocor?

Saya kemudian berpikir lebih dalam. Besok komplain dulu dengan pemilik kos. Jika dalam beberapa hari kamar saya masih bocor ketika hujan, saya akan segera pindah.

Dan sekarang saya tetap akan googling kos lain, yang bisa segera saya tempati ketika kos ini tetap tak diperbaiki—saya masih tak seoptimis penjual es yang menjajakan jualannya di tengah hujan.

Hujan selalu meninggalkan kenangan.

Kindle Paperwhite: Pengalaman Membaca Yang Menyenangkan

Membaca buku adalah salah satu hobi yang sudah lama saya tekuni. Genre buku yang saya baca bervariasi dari buku teknik, novel, cerpen, da...… Continue reading

Percakapan default di mini market

Published on March 09, 2011

Kesederhanaan

Published on June 22, 2015