4 Februari

Reading time ~1 minute

Jalan setapak yang mulai menyempit membuat berpikir dua kali untuk melangkah. Rasa dingin dunia yang mulai menusuk tulang pun semakin terasa linu. Pandangan yang dikaburkan kabut kesesatan membuat mata perih. Beban berat yang bergelantung di pundak semakin terasa berat.

Mencoba berhenti sejenak melepas lelah, genangan air ini tidak mau menyingkir, malah memanggil temannya datang berkumpul. Semakin terasa lelah. Terlelap di antara bumi dan langit.

Kehangatan mentari di pagi hari hanya bisa dirasakan sejenak, segera di usir arak-arakan awan mendung yang ingin segera melepas bebannya. Langit yang menangis sepanjang hari membuat jalan ini semakin licin dan menipu.

Sepi yang terasa makin hari makin tak terasa lagi. Seolah-olah menjadi kebiasaan yang menipu diri. Rasa yang menjadikan diri seolah memang sendiri di belantara buas yang luas. Hanya desahan angin yang setia menemani setiap langkah. Gemricik aliran air sebagai obat sepi yang mujarab.

Terlihat sorot cahaya dari ujung jalan. Mencoba mempercepat langkah mencapai setitik harapan. Tiba-tiba terhenti oleh rekahan mulut bumi tepat di depan ujung kaki. Hampir saja tertelan mentah-mentah. Lagi-lagi harus memutar jalan lagi untuk mencapai sorot kecil cahaya yang mulai membesar.

Akankah jalan ini tak kunjung berujung? Atau memang harus memilih jalan lain yang juga samar?

Kindle Paperwhite: Pengalaman Membaca Yang Menyenangkan

![Tampilan Home Kindle Paperwhite dalam format list](/images/old/2013/08/Kindle-Paperwhite-01.jpg)Membaca buku adalah salah satu hobi yan...… Continue reading

Bermain Ingress

Published on March 10, 2013

Hujan dan Kebocoran

Published on November 08, 2015