Lakang dan Serep

Serep, ban cadangan sebuah mobil sedan tahun sembilan puluhan, diangkat dari bagasi. Lakang, si ban belakang sebelah kanan, tertusuk paku dan kempes. Serep menggantikan peran Lakang, karena dia satu-satunya ban cadangan yang ada di mobil itu.

“Hai, Rep, kamu menggantikan aku ya?” sapa Lakang sambil tersenyum.

“Iya Kang,” jawab Serep pendek.

“Kenapa mukamu kusut? Bukannya asyik menggelinding di jalan,” ujar Lakang sambil menatap Serep.

“Kamu nggak pernah tahu perasaanku, Kang. Sejak dibeli pertama kali, aku tak pernah menyentuh jalanan sekalipun,” tukas Serep, kesal.

“oh… jadi ini pengalamanmu yang pertama kali, ya Rep. Yang pertama selalu tak terlupakan,” ujar Lakang, sambil mengenang malam pertamanya.

“Sebagai ban, aku merasa terhina. Kehidupan ini tak adil. Aku hanya bisa melihat yang lain menggelinding dengan riang di jalan,” kenang Serep, kemudian melirik bagasi, “Sementara aku berbaring di bagasi yang sumpek bersama koper yang sombong.”

“Disyukuri saja, Rep. Paling tidak kamu akan merasakan dinginnya air hujan dan sakitnya kejeglong.”

“Tapi tetap sakit, Kang. Sakiiit…” ratap Serep.

“Sudah… Sudah… Yang penting kamu bisa menggelinding sekarang,” ujar Lakang sambil puk-puk Serep.

“Dan setelah kamu ditambal, aku akan kembali jadi ban cadangan. Kembali ke kotak sempit bersama koper tak berperasaan,” gumam Serep sambil berlalu.

Simple Miracles: Doa dan Arwah - Ayu Utami

Ulasan: Simple Miracles Doa dan Arwah

Tentang kisah sosok ibu yang sangat berarti bagi Ayu Utami. Tentang mengenali keajaiban kecil (Simple Miracles) di sekitar. Tentang perjalanan spiritual Ayu sendiri.

Yang paling saya sukai dari buku ini, adalah mengajarkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Bahwa doa itu bukan merupakan suatu tanda kelemahan, namun lebih pada keterbuakaan diri sendiri kepada yang yakini.

Utamanya adalah penghargaan kepada ibu, sosok yang sangat berharga bagi setiap anak manusia. Sosok yang sering tanpa henti mengingatkan hal-hal yang baik, dan tak pernah pudar maafnya kepada kesalahan anaknya.

Kisah dalam buku ini membimbing bagaimana menafsirkan dan mengkritisi pengalaman yang kadang susah dijelaskan nalar dan dibuktikan secara logis.

Dan bagi yang tidak percaya bahwa ada penampakan arwah atau roh, dan sebangsanya. Mungkin akan skeptis tentang apa yang ditulis Ayu. Namun bagi saya, yang percaya akan dunia setelah kematian, bisa mengambil pelajaran tentang apa yang disampaikan penulis.

Pelajaran tentang keterbukaan mengenai hal-hal yang belum diketahui dan tetap memakai nalar kritis untuk mempertanyakan dan memahami pejalaran tersebut.

Continue reading

Ketika Libur

Apa yang aku lakukan di hari libur? Kadang seharian tidur, kadang seharian nonton film hasil unduhan, atau kadang belajar pemrograman.

Tapi akhir-akhir ini aku menyadari apa yang menyenangkan di hari libur. Menikmati segelas kopi di teras warung kopi yang tak terlalu ramai, sambil merenungi kehidupan atau sekadar melamun.

Dalam waktu satu sampai dua jam berikutnya, pikiran lebih fresh dan tak lagi suntuk dengan pekerjaan.

Kehidupan terasa lebih berarti daripada sekadar menghabiskan waktu memandangi layar lcd (laptop atau gadget).

Satu sampai dua jam me time sangat berarti melepaskan lelah pikir.

Pilih mana, sakit gigi atau sakit hati?


daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa

—Cuplikan lirik “Sakit gigi” dipopulerkan oleh Meggy Z

Jika kamu pernah mendengar lirik lagu di atas, dan pernah sakit gigi. Saya rasa kamu akan sependapat dengan saya, bahwa sakit hati itu masih lebih baik dari sakit gigi.

Efeknya mungkin mirip. Sakit hati dan sakit gigi, bisa menyebabkan berkurangnya nafsu makan. Ketidak-stabilan emosi. Datang di malam hari ketika akan tidur. Dan lain sebagainya, whatever.

Namun efek paling menyebalkan dari sakit gigi adalah tak bisa dilupakan dan tidak bisa tidur. Salah satu jalan adalah dibawa ke dokter. Dan dokter gigi tidak ada yang murah. Pun tak ada dokter gigi yang saya ketahui buka jam 12 malam.

Sedangkan sakit hati, paling tidak masih bisa tidur dan bahkan bisa teralihkan (terlupakan) seiring berjalannya waktu atau banyaknya kegiatan lain. Kecuali kalau pendendam. Untungnya saya bukan tipe orang yang suka mendendam.

Kesimpulannya, mana yang lebih baik? Sakit gigi atau Sakit hati? Tidak salah satu atau keduanya. Sakit itu bukan pilihan namun resiko. Dan sakit gigi adalah resiko yang paling menyebalkan.

tulisan usil, opini asal