Simple Miracles: Doa dan Arwah - Ayu Utami

Ulasan: Simple Miracles Doa dan Arwah

Tentang kisah sosok ibu yang sangat berarti bagi Ayu Utami. Tentang mengenali keajaiban kecil (Simple Miracles) di sekitar. Tentang perjalanan spiritual Ayu sendiri.

Yang paling saya sukai dari buku ini, adalah mengajarkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Bahwa doa itu bukan merupakan suatu tanda kelemahan, namun lebih pada keterbuakaan diri sendiri kepada yang yakini.

Utamanya adalah penghargaan kepada ibu, sosok yang sangat berharga bagi setiap anak manusia. Sosok yang sering tanpa henti mengingatkan hal-hal yang baik, dan tak pernah pudar maafnya kepada kesalahan anaknya.

Kisah dalam buku ini membimbing bagaimana menafsirkan dan mengkritisi pengalaman yang kadang susah dijelaskan nalar dan dibuktikan secara logis.

Dan bagi yang tidak percaya bahwa ada penampakan arwah atau roh, dan sebangsanya. Mungkin akan skeptis tentang apa yang ditulis Ayu. Namun bagi saya, yang percaya akan dunia setelah kematian, bisa mengambil pelajaran tentang apa yang disampaikan penulis.

Pelajaran tentang keterbukaan mengenai hal-hal yang belum diketahui dan tetap memakai nalar kritis untuk mempertanyakan dan memahami pejalaran tersebut.

Continue reading

Ketika Libur

Apa yang aku lakukan di hari libur? Kadang seharian tidur, kadang seharian nonton film hasil unduhan, atau kadang belajar pemrograman.

Tapi akhir-akhir ini aku menyadari apa yang menyenangkan di hari libur. Menikmati segelas kopi di teras warung kopi yang tak terlalu ramai, sambil merenungi kehidupan atau sekadar melamun.

Dalam waktu satu sampai dua jam berikutnya, pikiran lebih fresh dan tak lagi suntuk dengan pekerjaan.

Kehidupan terasa lebih berarti daripada sekadar menghabiskan waktu memandangi layar lcd (laptop atau gadget).

Satu sampai dua jam me time sangat berarti melepaskan lelah pikir.

Pilih mana, sakit gigi atau sakit hati?


daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa

—Cuplikan lirik “Sakit gigi” dipopulerkan oleh Meggy Z

Jika kamu pernah mendengar lirik lagu di atas, dan pernah sakit gigi. Saya rasa kamu akan sependapat dengan saya, bahwa sakit hati itu masih lebih baik dari sakit gigi.

Efeknya mungkin mirip. Sakit hati dan sakit gigi, bisa menyebabkan berkurangnya nafsu makan. Ketidak-stabilan emosi. Datang di malam hari ketika akan tidur. Dan lain sebagainya, whatever.

Namun efek paling menyebalkan dari sakit gigi adalah tak bisa dilupakan dan tidak bisa tidur. Salah satu jalan adalah dibawa ke dokter. Dan dokter gigi tidak ada yang murah. Pun tak ada dokter gigi yang saya ketahui buka jam 12 malam.

Sedangkan sakit hati, paling tidak masih bisa tidur dan bahkan bisa teralihkan (terlupakan) seiring berjalannya waktu atau banyaknya kegiatan lain. Kecuali kalau pendendam. Untungnya saya bukan tipe orang yang suka mendendam.

Kesimpulannya, mana yang lebih baik? Sakit gigi atau Sakit hati? Tidak salah satu atau keduanya. Sakit itu bukan pilihan namun resiko. Dan sakit gigi adalah resiko yang paling menyebalkan.

Furiously Writing - source: Flickr

Nge-blog selama Februari atau Pebruari?

Saya kesulitan menemukan ide dan mood untuk menulis beberapa hari terakhir. Awal bulan ini, saya akan mulai nge-blog selama Februari, setiap hari, dengan mengoptimalkan ide yang didapat dari ebook “365 Days of Writing Prompts” yang ulasannya saya tulis di VirtueMagz.

Harapannya agar lebih mudah lagi membangun ide dan mood untuk menulis.

Tulisan saya beberapa pekan sebelumnya kebanyakan resensi dari buku yang selesai saya baca. Namun pada akhirnya malah membuat saya tertekan karena tak semua buku bisa menginspirasi saya untuk membuat tulisan di blog.

Flangiprop!
Invent a definition for the word “flangiprop,” then use the word in a post
The Daily Post – 365 Days of Writing Prompts, 2013, 13

Oke, dalam ebook tersebut, ide untuk hari ini adalah membuat definisi kata “flangiprop.” Dan saya merasa kata tersebut kurang menarik jika diserap dan didefinisikan dalam Bahasa Indonesia.

Awal kata tersebut menggunakan huruf “F”. Dalam bahasa Indonesia, sering terjadi salah-kaprah penggunaan kata serapan yang memakai huruf “F” dalam susunan katanya. Apakah tetap memakai huruf “F” atau diganti “P”? Apakah “faaak” atau “paaak”?

Februari atau Pebruari?

Kembali ke awal bulan, saya menemukan keganjilan waktu melihat indikator kalender di Ubuntu yang bersemayam di komputer saya. Di situ tertulis “Sab, 1 Peb 2014 07:37:02 WIB”.
Continue reading

tulisan usil, opini asal