Hujan dan Kebocoran

Hari ini hujan deras pertama di Jogja. Kamar kosku bocor lagi, meski tahun kemarin sudah diperbaiki. Dan Bocornya lebih parah dari tahun kemarin.

Sialnya saya lupa menaruh ember di bawah tetesan air, dan banyak barang yang masih berserakan di lantai. Bocoran yang seperti grojogan sèwu itu sukses membasahi beberapa barang-barang tersebut.


Siang ini saya terbangun karena mendengar suara air yang begitu dekat di telinga. Saat itu air sudah menggenang hampir di sebagian besar lantai kos.

Saya panik ketika melihat laptop di atas meja juga basah. Jengkel sekali saya—untung cuma bagian atas, tak sampai ke dalam dan masih bisa untuk menulis tulisan ini.

“Kenapa bocor lagi,” batin saya jengkel dalam hati.

Kemarin saya sudah persiapan ketika mungkin bocor lagi. Yang tidak saya sadari waktu berangkat tidur tadi adalah, hari ini akan hujan deras sekali dan menyebabkan kebocoran yang malah lebih parah dari dugaan saya sebelumnya.

Kejengkelan memuncak, ketika airnya lumayan deras dari atap, saya memutuskan akan pindah kos saja. Sepertinya pemilik tak terlalu memperhatikan keadaan kos.

Apa gunanya kos yang cukup murah namun malah merugikan saya lebih banyak.

Menyadari tak ada gunanya jengkel berkelanjutan, saya segera membersihkan genangan air dengan kain pel, sedikit demi sedikit genangan mulai berkurang. Lalu hujan tambah deras. Dan “air terjun” dari atap juga senada dengan hujan.

Saya mulai berlomba dengan hujan—saya pikir jika saya lebih cepat saya bisa meminimalisir kebasahan—dan tentunya pemenangnya adalah hujan. Goblok sekali saya berlomba dengan hujan yang bahkan bisa membanjiri Jakarta.

Kejengkelan saya sudah klimaks, “FAK!!!,” batin saya. Lalu mulai menertawakan kegoblokan saya sendiri. Saya akhiri lomba dengan hujan sebagai pecundang.

Daripada meratapi kekalahan, saya googling kos yang mungkin lebih baik dari sekarang. Paling tidak, bocor bukan salah satu fiturnya. Saya memutuskan akan pindah besok. Titik.

Lalu hujan mulai reda. Grojogan sèwu sudah tak terlalu deras lagi. Saya mulai membersihkan kamar lagi. Kali ini saya berharap tak seperti sebelumnya. Berlomba dengan hujan. Setelah selesai, akhirnya lantai kamar sudah tak digenangi air lagi. Dan saya masih cukup jengkel sambil menertawakan nasib saya sendiri.

Sayup-sayup terdengar, “dooong… dooong… dooong,” lalu saya mengintip dari jendela. Penjual es puter beratap payung menjajakan jualannya di tengah gerimis. Saya seperti ditampar. Penjual es saja masih optimis menjajakan jualannya di tengah gerimis. Masak saya menyerah begitu saja ketika atap genteng kamar saya bocor?

Saya kemudian berpikir lebih dalam. Besok komplain dulu dengan pemilik kos. Jika dalam beberapa hari kamar saya masih bocor ketika hujan, saya akan segera pindah.

Dan sekarang saya tetap akan googling kos lain, yang bisa segera saya tempati ketika kos ini tetap tak diperbaiki—saya masih tak seoptimis penjual es yang menjajakan jualannya di tengah hujan.

Hujan selalu meninggalkan kenangan.

Hujan Bulan Juni

“Hujan Bulan Juni”, tentunya kalian sudah sering dengar. Biasanya berkolerasi dengan puisi karangan Sapardi Djoko Damono. Novel yang berjudul “Hujan Bulan Juni” ini juga karangan beliau.

Saya suka puisi, namun lebih menikmati novel. Dan nama Sapardi Djoko Damono bagi saya selalu berkorelasi dengan puisi. Begitu melihat novel karangan beliau, saya segera membelinya.

Kisah dalam novel menyoroti konflik perbedaan yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Meski perbedaan geografis saat ini tak lagi menjadi hambatan. Ternyata chauvinisme masih kental pada masyarakat kita.

Lewat renungan dan dialog, Sapardi menyampaikan konflik yang dihadapi tokoh dalam mencoba merombak tembok perbedaan yang terjadi di masyarakat kita.

Sebenarnya tak ada hal baru dari sisi kisah asmara dalam novel ini. Yang saya temukan menarik adalah dialog-dialog kocak antar tokoh utama.

Alur maju-mundur dalam novel ini sedikit membingungkan saya. Saya baru menyadari kalau kisah yang saya baca alurnya tak hanya maju—mungkin karena waktu membaca saya kekurangan kafein, sehingga luput.

Kemudian saya berpikir, kenapa novel ini sangat pendek, singkat, padat. Mungkin buku ini menghayati Hujan di Bulan Juni, yang pendek, deras dan jelas-jelas basah.

The Mark of Athena

Sebenarnya saya sudah lama menelantarkan buku ini. Lebih dari setengah tahun yang lalu. Alasannya? Saya bisa menyebutkan setumpuk alasan yang memenuhi halaman ini, namun sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Yang membuat saya kembali membaca buku ini, daftar ‘current read’ di goodreads, menggugah obsesi saya untuk menyelesaikan buku ini.

Sebenarnya sudah hampir selesai saya membaca buku ini, bab-bab terakhir ternyata malah menggugah nafsu saya untuk terus membaca. Sarkasme. Rick Riordan piawai menyisipkan sarkasme di setiap kesempatan, kapan pun, di mana pun.

Tak heran, generasi muda jaman sekarang sangat piawai menangkap sarkasme.

Buku ini lebih saya rekomendasikan kepada yang pernah membaca buku sebelumnya dalam serial yang sama, karena keterkaitan cerita yang sangat kental. Juga yang terobsesi menyelesaikan kisah para remaja setengah dewa menyelamatkan dunia.

Mohon maaf jika saya tidak menyajikan resensi secara komplit. Tulisan ini lebih mengarah pada kesan saya setelah membaca buku ini dengan selang waktu cukup lama. Ternyata hal itu cukup menghilangkan rasa dan ingatan tentang apa saja faktor lain yang menarik dari buku ini.

Assassin's Apprentice

Beberapa hari yang lalu, saya memulai membaca “Assassin’s Apprentice”, bagian dari “Farseer Trilogy” karangan Robin Hobb. Saya tertarik pada buku ini dari rekomendasi di goodreads. Yap, buku ini ber-genre fantasi.

Kisah “Assassin’s Apprentice” sempat bikin saya sebal waktu membacanya, karena pemeran utama yang terlalu bebal untuk menyadari keadaannya. Namun saya acungi jempol kepada pengarang, tulisannya sangat menggugah emosi sehingga saya begitu terperangkap ke dalam kisah si Fitz.

Yang menarik, pengarang menyuguhkan tulisan yang sangat detail melalui konflik antar karakter yang begitu berwarna, intrik politik sangat kental mengingat seting di kerajaan, sampai cara mengurus anjing yang baik.

Kisah Fitz menyenangkan dibaca untuk mengisi dahaga fantasi mengingat cukup komplit sampai ke titik-komanya. Dengan gaya bahasa dan penamaan karakter yang unik, dan kadang cukup membingungkan buku ini menyita perhatian saya beberapa hari belakangan ini.

Saya berencana melanjutkan ke Buku kedua berjudul “Royal Assassin” karena penasaran dengan kisah Fitz selanjutnya.

Detail buku:

  • Judul: Assassin’s Apprentice
  • Pengarang: Robin Hobb
  • Format Buku: ebook
  • Halaman: 464
  • Serial: Farseer Trilogy #1
  • Genre: fiksi, fantasi
  • ISBN: 978-0-5538-9748-7
  • Harga: $3.99
  • Penerbit: Spectra; 5 November 2002
  • Bahasa: Inggris
  • Tautan: goodreads, amazon

Get Out of Your Own Light: Aldous Huxley on Who We Are, the Trap of Language, and the Necessity of Mind-Body Education

“In all the activities of life, from the simplest physical activities to the highest intellectual and spiritual activities, our whole effort must be to get out of our own light.”

Artikel tentang pentingnya visi yang lebih luas dari diri sendiri.