Kesederhanaan

Terakhir kali blog ini saya rombak waktu saya butuh move on dari kebanyakan “s”. Dan kali ini saya sederhanakan lagi dari sisi mesin yang membuatnya.

Dahulu, berawal dari Blogger kemudian saya beralih ke WordPress karena perkerjaan saya waktu itu berhubungan erat dengan penggunaan WordPress. Sekarang, pekerjaan saya jauh dari CMS, dan sudah jarang sekali saya mengutak-atik WordPress. Saya butuh sistem yang lebih sederhana. Dan tak perlu sistem sekompleks WordPress hanya untuk membuat artikel.

Lalu, apakah WordPress jelek?

Sebenarnya WordPress itu cukup sederhana, terutama untuk pengguna yang butuh ekosistem pengelola konten yang mumpuni berbasis PHP.

Banyak fitur WordPress yang bisa langsung dipakai tanpa perlu belajar banyak hal. Cukup dengan klik dan ketik sana-sini, blog sudah berjalan dengan tampilan menarik, ditambah dukungan SEO, statistik dan berbagai macam puluhan ribu fitur tambahan dari plugin. Juga bisa dikelola dari perangkat mobile.

Jadi, untuk kalian yang ingin langsung bisa nge-blog tanpa ribet, WordPress salah satu pilihan menarik yang bisa dipasang di server berbasis PHP di banyak shared hosting di dunia.

Kenapa pindah ke Jekyll?

Saya tertarik dengan sistem pembuat situs web statis, karena pada akhirnya yang disajikan kepada pembaca adalah halaman HTML. Juga teman saya sudah membuktikan sederhananya memakai sistem ini di blog-nya.

Meski saya sudah mengenal Jekyll sejak lama, namun saya ingin menguatkan argumen saya dengan mencoba beberapa alternatif seperti Middleman (Ruby), Hexo (JavaScript), dan Metalsmith (JavaScript).

Setelah mencoba, akhirnya saya putuskan tetap memakai Jekyll, dan ditambah Octopress. Bagi saya, Jekyll lebih mature dan stabil dari sisi pengembangan. Selain itu lebih banyak pilihan theme—jujur saja, saya bukan desainer website.

Bukankah Jekyll itu pakai terminal?

Jika tidak terbiasa dengan Markdown dan terminal, memang Jekyll itu terasa sangat mengintimidasi. Bayangkan, prosesnya dijalankan dengan terminal yang bahkan tak ada penujuk arah jurusan, Jogja-Solo atau Jogja-Semarang—bukan terminal bus kaliii…

Bagi yang sering klik sana-sini, dan langsung jadi, mengetik perintah di terminal itu seperti menulis mantra kemudian terjadilah keajaiban—beruntunglah saya yang sering menggunakan terminal.

Menjalankan Jekyll di terminal
Menjalankan Jekyll di terminal

Sebenarnya tak ada keajaiban saat menggunakan Jekyll, dan bisa dilakukan siapa pun. Hanya perlu menghafal beberapa perintah, dan sedikit penempatan konten. Dan kalau tak mau menghafal, dokumentasinya cukup mudah ditemukan dan membantu.

Pilihan Hosting murah, bahkan gratis

Hasil kompilasi Jekyll adalah berkas HTML, CSS, dan berkas lainnya yang bersifat statis dan bisa disajikan tanpa perlu bantuan perangkat lunak selain peramban web.

Dengan komposisi berkas HTML, CSS, dan gambar, saya bisa menaruh blog saya di GitHub yang menyediakan hosting gratis untuk halaman statis. Lebih ekstrim, bisa saja saya sajikan blog saya dari Dropbox atau Google Drive.

Menyederhanakan

Beberapa konten sengaja tidak saya ikutkan di perubahan sistem ini. Terutama yang tak bermanfaat dan kurang sentimentil. Keputusan ini tak terlalu berat, bahkan sengaja untuk mengurangi kemaluan yang ditimbulkan dari artikel yang saya tulis di masa lalu—dengan kedok menyederhanakan.

Kesimpulannya, bagi saya sekarang, kesederhanaan mesin blog adalah penyajian konten yang cepat, mudah diakses, mudah dikelola dan ringan di kantong. Jangan sampai, blog membebani pikiran selain membuat isinya sendiri.

Gambar dupa yang saya beli tadi

Jika dulu saya suka aroma terapi cair, sekarang lebih memilih membakar dupa. Praktis. Harum. Sepanjang tidur.

via Instagram http://ift.tt/1zubNdZ

Serep, ban cadangan sebuah mobil sedan tahun sembilan puluhan, diangkat dari bagasi. Lakang, si ban belakang sebelah kanan, tertusuk paku dan kempes. Serep menggantikan peran Lakang, karena dia satu-satunya ban cadangan yang ada di mobil itu.

“Hai, Rep, kamu menggantikan aku ya?” sapa Lakang sambil tersenyum.

“Iya Kang,” jawab Serep pendek.

“Kenapa mukamu kusut? Bukannya asyik menggelinding di jalan,” ujar Lakang sambil menatap Serep.

“Kamu nggak pernah tahu perasaanku, Kang. Sejak dibeli pertama kali, aku tak pernah menyentuh jalanan sekalipun,” tukas Serep, kesal.

“oh… jadi ini pengalamanmu yang pertama kali, ya Rep. Yang pertama selalu tak terlupakan,” ujar Lakang, sambil mengenang malam pertamanya.

“Sebagai ban, aku merasa terhina. Kehidupan ini tak adil. Aku hanya bisa melihat yang lain menggelinding dengan riang di jalan,” kenang Serep, kemudian melirik bagasi, “Sementara aku berbaring di bagasi yang sumpek bersama koper yang sombong.”

“Disyukuri saja, Rep. Paling tidak kamu akan merasakan dinginnya air hujan dan sakitnya kejeglong.”

“Tapi tetap sakit, Kang. Sakiiit…” ratap Serep.

“Sudah… Sudah… Yang penting kamu bisa menggelinding sekarang,” ujar Lakang sambil puk-puk Serep.

“Dan setelah kamu ditambal, aku akan kembali jadi ban cadangan. Kembali ke kotak sempit bersama koper tak berperasaan,” gumam Serep sambil berlalu.

Tentang kisah sosok ibu yang sangat berarti bagi Ayu Utami. Tentang mengenali keajaiban kecil (Simple Miracles) di sekitar. Tentang perjalanan spiritual Ayu sendiri.

Yang paling saya sukai dari buku ini, adalah mengajarkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Bahwa doa itu bukan merupakan suatu tanda kelemahan, namun lebih pada keterbuakaan diri sendiri kepada yang yakini.

Utamanya adalah penghargaan kepada ibu, sosok yang sangat berharga bagi setiap anak manusia. Sosok yang sering tanpa henti mengingatkan hal-hal yang baik, dan tak pernah pudar maafnya kepada kesalahan anaknya.

Kisah dalam buku ini membimbing bagaimana menafsirkan dan mengkritisi pengalaman yang kadang susah dijelaskan nalar dan dibuktikan secara logis.

Dan bagi yang tidak percaya bahwa ada penampakan arwah atau roh, dan sebangsanya. Mungkin akan skeptis tentang apa yang ditulis Ayu. Namun bagi saya, yang percaya akan dunia setelah kematian, bisa mengambil pelajaran tentang apa yang disampaikan penulis.

Pelajaran tentang keterbukaan mengenai hal-hal yang belum diketahui dan tetap memakai nalar kritis untuk mempertanyakan dan memahami pejalaran tersebut.


Detil buku:

  • Judul: Simple Miracles Doa dan Arwah
  • Pengarang: Ayu Utami
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
  • Tahun terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2014
  • Tebal halaman: x + 177
  • Ukuran buku: 13,5 x 20 cm
  • ISBN 13: 9789799107794
  • Harga: Rp. 50.000
  • Seri: Spiritualisme Kritis #1

Sombong itu bukan hanya saat mengaku sebagai orang besar, namun juga ketika terlalu sering mengaku sebagai wong cilik…