The Mark of Athena

Sebenarnya saya sudah lama menelantarkan buku ini. Lebih dari setengah tahun yang lalu. Alasannya? Saya bisa menyebutkan setumpuk alasan yang memenuhi halaman ini, namun sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Yang membuat saya kembali membaca buku ini, daftar ‘current read’ di goodreads, menggugah obsesi saya untuk menyelesaikan buku ini.

Sebenarnya sudah hampir selesai saya membaca buku ini, bab-bab terakhir ternyata malah menggugah nafsu saya untuk terus membaca. Sarkasme. Rick Riordan piawai menyisipkan sarkasme di setiap kesempatan, kapan pun, di mana pun.

Tak heran, generasi muda jaman sekarang sangat piawai menangkap sarkasme.

Buku ini lebih saya rekomendasikan kepada yang pernah membaca buku sebelumnya dalam serial yang sama, karena keterkaitan cerita yang sangat kental. Juga yang terobsesi menyelesaikan kisah para remaja setengah dewa menyelamatkan dunia.

Mohon maaf jika saya tidak menyajikan resensi secara komplit. Tulisan ini lebih mengarah pada kesan saya setelah membaca buku ini dengan selang waktu cukup lama. Ternyata hal itu cukup menghilangkan rasa dan ingatan tentang apa saja faktor lain yang menarik dari buku ini.

Assassin's Apprentice

Beberapa hari yang lalu, saya memulai membaca “Assassin’s Apprentice”, bagian dari “Farseer Trilogy” karangan Robin Hobb. Saya tertarik pada buku ini dari rekomendasi di goodreads. Yap, buku ini ber-genre fantasi.

Kisah “Assassin’s Apprentice” sempat bikin saya sebal waktu membacanya, karena pemeran utama yang terlalu bebal untuk menyadari keadaannya. Namun saya acungi jempol kepada pengarang, tulisannya sangat menggugah emosi sehingga saya begitu terperangkap ke dalam kisah si Fitz.

Yang menarik, pengarang menyuguhkan tulisan yang sangat detail melalui konflik antar karakter yang begitu berwarna, intrik politik sangat kental mengingat seting di kerajaan, sampai cara mengurus anjing yang baik.

Kisah Fitz menyenangkan dibaca untuk mengisi dahaga fantasi mengingat cukup komplit sampai ke titik-komanya. Dengan gaya bahasa dan penamaan karakter yang unik, dan kadang cukup membingungkan buku ini menyita perhatian saya beberapa hari belakangan ini.

Saya berencana melanjutkan ke Buku kedua berjudul “Royal Assassin” karena penasaran dengan kisah Fitz selanjutnya.

Detail buku:

  • Judul: Assassin’s Apprentice
  • Pengarang: Robin Hobb
  • Format Buku: ebook
  • Halaman: 464
  • Serial: Farseer Trilogy #1
  • Genre: fiksi, fantasi
  • ISBN: 978-0-5538-9748-7
  • Harga: $3.99
  • Penerbit: Spectra; 5 November 2002
  • Bahasa: Inggris
  • Tautan: goodreads, amazon

Get Out of Your Own Light: Aldous Huxley on Who We Are, the Trap of Language, and the Necessity of Mind-Body Education

“In all the activities of life, from the simplest physical activities to the highest intellectual and spiritual activities, our whole effort must be to get out of our own light.”

Artikel tentang pentingnya visi yang lebih luas dari diri sendiri.

Lebaran telah tiba, hari penutupan bagi yang berpuasa, dan hari meminta maaf bagi yang merasa salah. Juga hari dimulai tak perlu tarawih sampai bulan puasa berikutnya.

Bagi saya, hari libur. Libur dari segala kepenatan pekerjaan, dan libur dari terjaga sepanjang malam. Hari libur yang lebih lama dan tetap saja memakan jatah cuti.

Yang berbeda dari lebaran sebelumnya, saya belum mengirim SMS minta maaf kepada siapapun. Bukan berarti saya tak punya salah kepada siapapun. Hanya saja saya tak mau menambah salah saya dengan mengirim permintaan maaf lewat SMS.

Jika memang punya salah, lebih baik langsung menemui yang disalahi dan langsung meminta maaf. Bukan menanti selama setahun dan berpuasa dahulu kemudian minta maaf, pun lewat SMS.

Tak perlu meminta maaf bila tak tahu salahnya. Meminta maaf tanpa tahu kesalahan itu bagi saya seperti memberi cap kepada orang lain bukan pemaaf.

Hari raya ini cukup memberi selamat bagi yang merayakan. Memberi selamat kepada diri sendiri jika berpuasa selama sebulan penuh dengan khusyu’. Memberi selamat kepada kawan dan orang yang dirasa berkeyakinan merayakan. Memberi selamat kepada yang masih berpuasa hari ini, dan baru besok lebaran.

Selamat Hari Raya 1426 Hijriyah, selamat mengartikan dan meyakini, dan berhenti menghakimi yang tak sehati.

Kesederhanaan

Terakhir kali blog ini saya rombak waktu saya butuh move on dari kebanyakan “s”. Dan kali ini saya sederhanakan lagi dari sisi mesin yang membuatnya.

Dahulu, berawal dari Blogger kemudian saya beralih ke WordPress karena perkerjaan saya waktu itu berhubungan erat dengan penggunaan WordPress. Sekarang, pekerjaan saya jauh dari CMS, dan sudah jarang sekali saya mengutak-atik WordPress. Saya butuh sistem yang lebih sederhana. Dan tak perlu sistem sekompleks WordPress hanya untuk membuat artikel.

Lalu, apakah WordPress jelek?

Sebenarnya WordPress itu cukup sederhana, terutama untuk pengguna yang butuh ekosistem pengelola konten yang mumpuni berbasis PHP.

Banyak fitur WordPress yang bisa langsung dipakai tanpa perlu belajar banyak hal. Cukup dengan klik dan ketik sana-sini, blog sudah berjalan dengan tampilan menarik, ditambah dukungan SEO, statistik dan berbagai macam puluhan ribu fitur tambahan dari plugin. Juga bisa dikelola dari perangkat mobile.

Jadi, untuk kalian yang ingin langsung bisa nge-blog tanpa ribet, WordPress salah satu pilihan menarik yang bisa dipasang di server berbasis PHP di banyak shared hosting di dunia.

Kenapa pindah ke Jekyll?

Saya tertarik dengan sistem pembuat situs web statis, karena pada akhirnya yang disajikan kepada pembaca adalah halaman HTML. Juga teman saya sudah membuktikan sederhananya memakai sistem ini di blog-nya.

Meski saya sudah mengenal Jekyll sejak lama, namun saya ingin menguatkan argumen saya dengan mencoba beberapa alternatif seperti Middleman (Ruby), Hexo (JavaScript), dan Metalsmith (JavaScript).

Setelah mencoba, akhirnya saya putuskan tetap memakai Jekyll, dan ditambah Octopress. Bagi saya, Jekyll lebih mature dan stabil dari sisi pengembangan. Selain itu lebih banyak pilihan theme—jujur saja, saya bukan desainer website.

Bukankah Jekyll itu pakai terminal?

Jika tidak terbiasa dengan Markdown dan terminal, memang Jekyll itu terasa sangat mengintimidasi. Bayangkan, prosesnya dijalankan dengan terminal yang bahkan tak ada penujuk arah jurusan, Jogja-Solo atau Jogja-Semarang—bukan terminal bus kaliii…

Bagi yang sering klik sana-sini, dan langsung jadi, mengetik perintah di terminal itu seperti menulis mantra kemudian terjadilah keajaiban—beruntunglah saya yang sering menggunakan terminal.

Menjalankan Jekyll di terminal
Menjalankan Jekyll di terminal

Sebenarnya tak ada keajaiban saat menggunakan Jekyll, dan bisa dilakukan siapa pun. Hanya perlu menghafal beberapa perintah, dan sedikit penempatan konten. Dan kalau tak mau menghafal, dokumentasinya cukup mudah ditemukan dan membantu.

Pilihan Hosting murah, bahkan gratis

Hasil kompilasi Jekyll adalah berkas HTML, CSS, dan berkas lainnya yang bersifat statis dan bisa disajikan tanpa perlu bantuan perangkat lunak selain peramban web.

Dengan komposisi berkas HTML, CSS, dan gambar, saya bisa menaruh blog saya di GitHub yang menyediakan hosting gratis untuk halaman statis. Lebih ekstrim, bisa saja saya sajikan blog saya dari Dropbox atau Google Drive.

Menyederhanakan

Beberapa konten sengaja tidak saya ikutkan di perubahan sistem ini. Terutama yang tak bermanfaat dan kurang sentimentil. Keputusan ini tak terlalu berat, bahkan sengaja untuk mengurangi kemaluan yang ditimbulkan dari artikel yang saya tulis di masa lalu—dengan kedok menyederhanakan.

Kesimpulannya, bagi saya sekarang, kesederhanaan mesin blog adalah penyajian konten yang cepat, mudah diakses, mudah dikelola dan ringan di kantong. Jangan sampai, blog membebani pikiran selain membuat isinya sendiri.